PEMBENTUKAN MORALITAS DAN
SPIRITUALITAS MELALUI MAQAMAT WA AHWAL DALAM TASAWUF
Makalah
Disusun
guna memenuhi tugas
Mata
Kuliah Akhlak/Tasawuf
Dosen
: Komarudin

Penyusun
:
Muhammad
Roji’un (1401016081)
Deni
Puji Utomo (1401016085)
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2016
I. PENDAHULUAN
Sebelum masuk ke pembahasan materi
makalah, kita harus tahu terlebih dahulu, tentang pengertian Moralitas dan
Spiritualitas. Moral atau moralitas adalah istilah manusia menyebut ke manusia
atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Manusia yang
tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki
nilai positif. Sedangkan Spiritualitas adalah hubungannya dengan Yang Maha
Kuasa dan Maha Pencipta tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu.[1]
Untuk itu, dalam makalah ini kami
akan membahas salah satu pokok bahasan yang dikaji dalam tasawuf, yaitu Pembentukan Moralitas dan Spiritualitas
melalui Maqamat wa Ahwal dalam Tasawuf.
II. RUMUSAN MASALAH
1. Apa
pengertian Maqamat wa Ahwal ?
2. Bagaimana
membentuk moralitas dan spriritualitas melalui Maqamat wa Ahwal ?
III. PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
MAQAMAT WA AHWAL
Pengertian Maqamat
Secara harfiah Maqamat berasal dari bahasa
Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini
selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh
seorang sufi untuk berada dekat kepada Allah.
Dalam bahasa inggris Maqamat dikenal
dengan istilah stages yang artinya tangga. Sedangkan dalam ilmu tasawuf maqamat
berarti keddudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah
diusahakan, baik melalui Riyadhah, Ibadah, maupun mujahadah.[2]
Pengertian
hal Ahwal
Menurut Harun Hasution, dalam Buku Abuddin Nata “Akhlak
Tasawuf.” Hal atau akhwal merupakan keadaan mental perasaan senang, perasaan
takut, perasaan sedih, dan sebagainya. Hal
yang dapat di sebut sebagai hal adalah takut (al-Khauf), rendah hati (al-Tawadhu),
patuh (al-Taqwa), ikhlas (al-Ikhlas), rasa berteman (al-uns), gembira hati (al-wajd), rasa terimakasih (al-Syukr).
Hal, berlainan dengan maqam, bukan
diperoleh atas usaha manusia, tetapi diperdapat sebagai anugerah rahmat dari
Tuhan. Dan berlainan pula dengan maqam, hal bersifat sementara, datang, dan
pergi bagi seorang sufi dalam perjalanan mendekati Tuhan.
Selain melakukan berbagai usaha dan
kegiatan yang di sebut di atas, seorang sufi juga harus melakukan serangkaian
kegiatan mental yang berat. Kegiatan mental tersebut adalah: Riyadah (melatih mental dengan
melaksanakan dzikir dan tafakkur serta melatih diri dengan berbagai sifat yang
terdapat dalam maqam), Mujahadah
(berusaha sungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah), Khalwat (menyepi atau menyendiri), Uzlah (mengasingkan diri dari pengaruh
keduniaan), Muraqabah (mendekatkan
diri kepada Allah) dan Suluk (menjalankan
hidup sebagai sufi dengan dzikir dan dzikir).
Berdasarkan uraian di atas, tampak
jelas bahwa jalan yang harus di tempuh oleh seorang sufi untuk mencapai tujuan
memperoleh hubungan batin dan bersatu secara rohaniah dengan Tuhan bukanlah
jalan yang mudah.[3]
B.
PEMBENTUKAN
MORALITAS DAN SPRIRITUALITAS MELALUI MAQAMAT WA AHWAL
Pembentukan moralitas dan
spiritualitas maqamat dan ahwal dalam tasawuf
memiliki tangga atau tingkatan yang harus seseorang tempuh, berikut
penjelasannya;
a)Maqamat
Tentang berapa jumlah tangga atau
maqamat yang harus di tempuh oleh seorang sufi untuk sampai menuju Tuhan,
dikalangan sufi tidak sama pendapatnya. Muhammad al-Kalabazy dalam kitabnya
al-ta’arruf li Mazhab ahl al-Tasawuf, sebagai di kutip Harun Nasution misalnya
mengatakan bahwa maqamat itu jumlahnya ada sepuluh, yaitu al-taubah, al-zuhud,
al-shabr, al-faqr, al-tawadhu’, al-taqwa, al-tawakkal, al-ridla, al-mahabbah,
dan al-ma’rifah.
Sementara itu Abu Nasr al-Sarraj
al-Tusi dalam kitab al-Luma’ menyebutkan jumlah maqamat hanya tujuh, yaitu:
al-taubah, al-zuhud, al shabr, al-tawakkal, al-ridla, al-mahabbah, dan
al-ma’rifah.
Dan Imam al-Gazali dalam kitabnya
Ihya’ Ulum al-Din mengatakan bahwa maqamat itu ada delapan, yaitu: al-taubah,
al-sabr, al-zuhud, al-tawakkal, al-mahabbah,
al-ma’rifahdan al-ridla.
Kutipan di atas memperlihatkan
keadaan variasi penyebutan nama maqamat yang berbeda-beda, namun ada maqamat
yang oleh mereka di sepakati, yaitu: al-taubah, al-zuhud, al-wara, al-faqr,
al-shabr, al-tawakkal dan al-ridla. Sedangkan al-tawadhu, al-mahabbah dan
al-ma’rifah tidak di sepakati sebagai maqamat. Atas tiga istilah yang di
sebutkan di atas terkadang para ahli
tasawuf menyebutnya sebaga imaqamat, dan terkadang menyebutnya sebagai Hal dan
ittihad (tercapainya kesatuan wujud rohaniah dengan Tuhan). Adapun penjelasan
dari ketujuh maqamat yang telah di sepakati di atas adalah sebagai berikut.
1. Al-Taubah
Al-taubah berasal dari bahasa arab
yaitu taba, yatubu, taubatan yang artinya kembali. Sedangkantaubat yang di
maksud oleh kalangan sufi adalah memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan
di sertai janji yang sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan dosa
tersebut, yang di sertai dengan amal kebajikan. Di dalam Al- Qur’an banyak di
jumpai ayat-ayat yang menganjurkan manusia agar bertaubat, di antaranya ayat
yang berbunyi
·
Q.S. Al-Imran : 135
“Dan
(juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri
sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka
dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka
tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”
·
Q.S. An-Nur : 31
“Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu
beruntung.”
2. Al-Zuhud
Secara harfiah al-Zuhud berarti tidak
ingin kepada sesuatu yang bersifat keduniawian. Zuhud merupakan salah satu
ajaran agama yang sangat peting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh
kehidupan dunia. Orang yang zuhud lebih mengutamakan atau mengejar kebahagian
hidup di akhirat yang kekal dan abadi. Hal ini dapat di pahami dari isyarat
ayat yang berbunyi.
·
Q.S. Al- An’am : 32
“Dan
Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan
sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka
tidakkah kamu memahaminya?”
·
Q.S. At-Taubah : 38
“Padahal
kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat
hanyalah sedikit.”
3. Al-Wara’
Secara harfiah Al-wara’ artinya
saleh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Kata ini selanjutnya mengandung
arti menjauhi hal-hal yang tidak baik. Dan dalam pengertian sufi al-wara’
adalah meninggalkan segala yang didalamnya terdapat keraguan antara halal dan
haram (syubhat). Hal ini sejalan dengan hadis Nabi yang artinya:
“Barangsiapa
yang dirinya terbebas dari syubhat, maka sesungguhnya ia telah terbebas dari
yang haram.” (HR. Bukhori)
Hadis tersebut menunjukan bahwa
syubhat lebih dekat pada yang haram. Kaum sufi menyadari benar bahwa setiap
makanan, minuman, pakainan dan sebagainya yang haram dapat memberi pengaruh
bagi orang yang memakan, meminum atau memakainya. Orang yang demikian akan
keras hatinya, sulit mendapatkan hidayah dan ilham dari Tuhan.
4. Kefakiran
Secara harfiah fakir berarti orang yang
berhajat, butuh atau orang miskin. Sedangkan dalam pandangan sufi adalah tidak
meminta dari apa yang telah dimilikinya. Tidak meminta rizki kecuali hanya
untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban. Atau juga tidak meminta tetapi
juga tidak menolak.
5. Sabar Atau Al-Sabr
Secara harfiah sabar berarti tabah
hati. Di kalangan sufi sabar di artiakan sabar dalam menjalankan
printah-printah Allah Swt, dalam menjauhi larangan-Nya. Sabar dalam menunggu
pertolongan Tuhan. dan sikap sabar sangat di anjurkan dalam ajaran Al-Qur’an,
Allah Swt berfirman:
·
Q.S. Al-Ahqaf : 35
“Maka
bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari
Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi
mereka. Artinya: Bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu
melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap
(kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka
tipu dayakan.”
6.
Tawakkal
Secara harfiah tawakal berarti menyerahkan
diri. Dan secara istilah bahwa tawakkal adalah keyakinan seorang hamba bahwa
segala ketentuan hanya di dasarkan pada ketentuan Allah Swt.
Bertawakkal adalah perbuatan yang di
perintahkan Allah dalam firman-Nya:
·
Q.S. Al-Maidah : 11
“Dan
bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu
harus bertawakkal.”
8. Kerelaan
Secara harfiah ridha artinya rela,
suka, senang. Dalam istilah lain ridla/rela dapat di artikan sebagai kerelaan
atas segala kesukaran, rela membela kebenaran, rela berkorban harta, jiwa dll.
Semua itu sufi memandangnya sebagai sifat yang baik dan terpuji bahkan dapat di
artikan sebagai ibadat semata-mata karena mengharap ridha Allah Swt.[4]
b)
Hal Ahwal
Akhir sekali Ibn ‘Ata’illah
berpendapat bahwa al-hal yang bersifat kurniaan Allah swt terbahagi kepada tiga
bagian menurut darjat atau tingkat para salik
itu sendiri. Ketiga-tiga darjat tersebut ialah:
1. Al-Mubtadi’
2. Al-Mutawassit
3. Al-Muntaha
Mengenai hakikat darjat dan tingkatan
ini beliau jelaskan dengan kata-kata hikmahnya :
“Bahwasanya
Allah swt mengurniakan keatas anda sesuatu kurniaan supaya anda datang
kepadaNya. Allah swt mengurniakan kepada anda sesuatu kurniaan bagi
menyelamatkan anda dari terbelenggu dengan kekuasaan debu-debu dunia agar anda
bebas daripada penghambaan kebendaan dan syahwat keduniaan. Allah swt
mengurniakan kepada anda sesuatu kurniaan agar Anda dapat melepaskan diri anda
daripada tahanan wujud anda kepada lapangan melihatNya.”
Kata-kata hikmah ini merujuk kepada
situasi yang dilalui oleh seorang yang salik menuju Allah S.W.T. Situasi yang
pertama ialah diperingkat al-mubtadi’. Di peringkat ini Allah S.W.T.
menyedarkan hati seorang yang salik
dari sifat al-ghaflah atau lalai sehingga hati itu akan menjadi jaga atau
berada dalam keadaan al-yaqazah. Dengan kurniaan ini, seorang yang salik itu
akan akan dapat mengeluarkan diri atau jiwanya dari gelap kelalaian hati (zulmat al-ghaflah) kepada terangnya
cahaya kesedaran (nur al-yaqazah).
Seterusnya di peringkat kedua atau
al-mutawassit, Allah S.W.T. menjadikan hati seorang yang salik itu sentiasa
hudur (hadir) dalam mengingatiNya sehingga ia lupa kepada yang lainNya (hudur ma`allah). Seterusnya di peringkat akhir (al-muntaha) Allah S.W.T. menjadikan
hati seorang yang salik itu sentiasa syuhud terhadap hakikat Allah S.W.T.,
keagongan dan kesempurnaanNya, Uluhiyyah
dan RububiyyahNya sehingga dengan itu
jelas hakikat kehambaan diri yang bersifat lemah, miskin, fakir, jahil, taksir
(sifat kekurangan) dan sebagainya yang termasuk dalam peringkat al-ahwal bagi
seorang yang salik.[5]
IV. KESIMPULAN
Dalam proses pembentukan Moralitas
dan Spiritualitas melalui Maqamat wa
Ahwal dalam ilmu tasawuf, sesorang perlu melalui beberapa tingkatan yang
tentu tidak mudah dan tidak semua orang berhasil melakukannya. Maqamat wa Ahwal dalam disiplin ilmu
tasawuf merupakan isu penting bagi mereka yang bercita-cita untuk menjalani mujahadat al-nafs (kontrol diri) yaitu
perjuangan sungguh-sungguh atau jihad melawan ego atau nafsu pribadi.
V. PENUTUP
Demikianlah uraian yang dapat Penulis
sampaikan dalam makalah ini. Sebagai manusia biasa, tentunya makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari Para Pembaca
sangat Penulis nantikan demi kesempurnaan makalah dimasa yang akan datang.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi Pembaca pada
umumnya.
[1] Wikipedia
[2] Prof. Dr. H. Abuddin Nata,M.A., Akhlak
Tasawuf, Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2012. Hal. 193
[3] Prof. Dr. H. Abuddin Nata,M.A., Akhlak
Tasawuf, Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2012. Hal. 204-205
[4] Prof. Dr. H. Abuddin Nata,M.A., Akhlak
Tasawuf, Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2012. Hal. 193-204
[5] Othman Napiah, Ahwal dan Maqamat
dalam Ilmu Tasawuf, Johor Bahru: Penerbit Universiti Teknologi Malaysia,
2012. Hal 17-19
DAFTAR
PUSTAKA
Nata,
Abuddin. Akhlak tasawuf. Jakarta: PT
RAJAGRAFINDO PERSADA. 2012
Napiah,
Othman. Ahwal dan
Maqamat dalam Ilmu Tasawuf. Johor Bahru: Penerbit
Universiti Teknologi Malaysia. 2012
Wikipedia






0 komentar:
Posting Komentar