Rabu, 23 November 2016

Makalah Akhlaq Tasawuf

PEMBENTUKAN MORALITAS DAN SPIRITUALITAS MELALUI MAQAMAT WA AHWAL DALAM TASAWUF
Makalah
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah Akhlak/Tasawuf
Dosen : Komarudin









Penyusun :
Muhammad Roji’un                            (1401016081)
Deni Puji Utomo                                 (1401016085)


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2016



 



I.          PENDAHULUAN
            Sebelum masuk ke pembahasan materi makalah, kita harus tahu terlebih dahulu, tentang pengertian Moralitas dan Spiritualitas. Moral atau moralitas adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif. Sedangkan Spiritualitas adalah hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu.[1]
            Untuk itu, dalam makalah ini kami akan membahas salah satu pokok bahasan yang dikaji dalam tasawuf, yaitu Pembentukan Moralitas dan Spiritualitas melalui Maqamat wa Ahwal dalam Tasawuf.
II.        RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian Maqamat wa Ahwal ?
2.      Bagaimana membentuk moralitas dan spriritualitas melalui Maqamat wa Ahwal ?

III.       PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN MAQAMAT WA AHWAL
Pengertian Maqamat
Secara harfiah Maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat kepada Allah.
Dalam bahasa inggris Maqamat dikenal dengan istilah stages yang artinya tangga. Sedangkan dalam ilmu tasawuf maqamat berarti keddudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah diusahakan, baik melalui Riyadhah, Ibadah, maupun mujahadah.[2]
            Pengertian hal Ahwal
Menurut Harun Hasution, dalam Buku Abuddin Nata “Akhlak Tasawuf.” Hal atau akhwal merupakan keadaan mental perasaan senang, perasaan takut, perasaan sedih, dan sebagainya. Hal yang dapat di sebut sebagai hal adalah takut (al-Khauf), rendah hati (al-Tawadhu), patuh (al-Taqwa), ikhlas (al-Ikhlas), rasa berteman (al-uns), gembira hati (al-wajd), rasa terimakasih (al-Syukr).
Hal, berlainan dengan maqam, bukan diperoleh atas usaha manusia, tetapi diperdapat sebagai anugerah rahmat dari Tuhan. Dan berlainan pula dengan maqam, hal bersifat sementara, datang, dan pergi bagi seorang sufi dalam perjalanan mendekati Tuhan.
Selain melakukan berbagai usaha dan kegiatan yang di sebut di atas, seorang sufi juga harus melakukan serangkaian kegiatan mental yang berat. Kegiatan mental tersebut adalah: Riyadah (melatih mental dengan melaksanakan dzikir dan tafakkur serta melatih diri dengan berbagai sifat yang terdapat dalam maqam), Mujahadah (berusaha sungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah), Khalwat (menyepi atau menyendiri), Uzlah (mengasingkan diri dari pengaruh keduniaan), Muraqabah (mendekatkan diri kepada Allah) dan Suluk (menjalankan hidup sebagai sufi dengan dzikir dan dzikir).
Berdasarkan uraian di atas, tampak jelas bahwa jalan yang harus di tempuh oleh seorang sufi untuk mencapai tujuan memperoleh hubungan batin dan bersatu secara rohaniah dengan Tuhan bukanlah jalan yang mudah.[3]

B.     PEMBENTUKAN MORALITAS DAN SPRIRITUALITAS MELALUI MAQAMAT WA AHWAL
Pembentukan moralitas dan spiritualitas maqamat dan ahwal dalam tasawuf  memiliki tangga atau tingkatan yang harus seseorang tempuh, berikut penjelasannya;
                        a)Maqamat
Tentang berapa jumlah tangga atau maqamat yang harus di tempuh oleh seorang sufi untuk sampai menuju Tuhan, dikalangan sufi tidak sama pendapatnya. Muhammad al-Kalabazy dalam kitabnya al-ta’arruf li Mazhab ahl al-Tasawuf, sebagai di kutip Harun Nasution misalnya mengatakan bahwa maqamat itu jumlahnya ada sepuluh, yaitu al-taubah, al-zuhud, al-shabr, al-faqr, al-tawadhu’, al-taqwa, al-tawakkal, al-ridla, al-mahabbah, dan al-ma’rifah.
Sementara itu Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi dalam kitab al-Luma’ menyebutkan jumlah maqamat hanya tujuh, yaitu: al-taubah, al-zuhud, al shabr, al-tawakkal, al-ridla, al-mahabbah, dan al-ma’rifah.
Dan Imam al-Gazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum al-Din mengatakan bahwa maqamat itu ada delapan, yaitu: al-taubah, al-sabr,  al-zuhud, al-tawakkal, al-mahabbah, al-ma’rifahdan al-ridla.
Kutipan di atas memperlihatkan keadaan variasi penyebutan nama maqamat yang berbeda-beda, namun ada maqamat yang oleh mereka di sepakati, yaitu: al-taubah, al-zuhud, al-wara, al-faqr, al-shabr, al-tawakkal dan al-ridla. Sedangkan al-tawadhu, al-mahabbah dan al-ma’rifah tidak di sepakati sebagai maqamat. Atas tiga istilah yang di sebutkan di atas terkadang  para ahli tasawuf menyebutnya sebaga imaqamat, dan terkadang menyebutnya sebagai Hal dan ittihad (tercapainya kesatuan wujud rohaniah dengan Tuhan). Adapun penjelasan dari ketujuh maqamat yang telah di sepakati di atas adalah sebagai berikut.
1.      Al-Taubah
Al-taubah berasal dari bahasa arab yaitu taba, yatubu, taubatan yang artinya kembali. Sedangkantaubat yang di maksud oleh kalangan sufi adalah memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan di sertai janji yang sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut, yang di sertai dengan amal kebajikan. Di dalam Al- Qur’an banyak di jumpai ayat-ayat yang menganjurkan manusia agar bertaubat, di antaranya ayat yang berbunyi
·         Q.S. Al-Imran : 135
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”
·         Q.S. An-Nur : 31
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
2.      Al-Zuhud
Secara harfiah al-Zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat keduniawian. Zuhud merupakan salah satu ajaran agama yang sangat peting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan dunia. Orang yang zuhud lebih mengutamakan atau mengejar kebahagian hidup di akhirat yang kekal dan abadi. Hal ini dapat di pahami dari isyarat ayat yang berbunyi.
·         Q.S. Al- An’am : 32
“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”
·         Q.S. At-Taubah : 38
“Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.”
3.      Al-Wara’
Secara harfiah Al-wara’ artinya saleh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Kata ini selanjutnya mengandung arti menjauhi hal-hal yang tidak baik. Dan dalam pengertian sufi al-wara’ adalah meninggalkan segala yang didalamnya terdapat keraguan antara halal dan haram (syubhat). Hal ini sejalan dengan hadis Nabi yang artinya:
“Barangsiapa yang dirinya terbebas dari syubhat, maka sesungguhnya ia telah terbebas dari yang haram.” (HR. Bukhori)
Hadis tersebut menunjukan bahwa syubhat lebih dekat pada yang haram. Kaum sufi menyadari benar bahwa setiap makanan, minuman, pakainan dan sebagainya yang haram dapat memberi pengaruh bagi orang yang memakan, meminum atau memakainya. Orang yang demikian akan keras hatinya, sulit mendapatkan hidayah dan ilham dari Tuhan.
 4. Kefakiran
Secara harfiah fakir berarti orang yang berhajat, butuh atau orang miskin. Sedangkan dalam pandangan sufi adalah tidak meminta dari apa yang telah dimilikinya. Tidak meminta rizki kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban. Atau juga tidak meminta tetapi juga tidak menolak.
 5. Sabar Atau Al-Sabr
Secara harfiah sabar berarti tabah hati. Di kalangan sufi sabar di artiakan sabar dalam menjalankan printah-printah Allah Swt, dalam menjauhi larangan-Nya. Sabar dalam menunggu pertolongan Tuhan. dan sikap sabar sangat di anjurkan dalam ajaran Al-Qur’an, Allah Swt berfirman:
·         Q.S. Al-Ahqaf : 35
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Artinya: Bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”
 6.      Tawakkal
Secara harfiah tawakal berarti menyerahkan diri. Dan secara istilah bahwa tawakkal adalah keyakinan seorang hamba bahwa segala ketentuan hanya di dasarkan pada ketentuan Allah Swt.
Bertawakkal adalah perbuatan yang di perintahkan Allah dalam firman-Nya:


·         Q.S. Al-Maidah : 11
“Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.”
8. Kerelaan
Secara harfiah ridha artinya rela, suka, senang. Dalam istilah lain ridla/rela dapat di artikan sebagai kerelaan atas segala kesukaran, rela membela kebenaran, rela berkorban harta, jiwa dll. Semua itu sufi memandangnya sebagai sifat yang baik dan terpuji bahkan dapat di artikan sebagai ibadat semata-mata karena mengharap ridha Allah Swt.[4]
b) Hal Ahwal
Akhir sekali Ibn ‘Ata’illah berpendapat bahwa al-hal yang bersifat kurniaan Allah swt terbahagi kepada tiga bagian menurut darjat atau tingkat para salik itu sendiri. Ketiga-tiga darjat tersebut ialah:
1.      Al-Mubtadi’
2.      Al-Mutawassit
3.      Al-Muntaha
Mengenai hakikat darjat dan tingkatan ini beliau jelaskan dengan kata-kata hikmahnya :
“Bahwasanya Allah swt mengurniakan keatas anda sesuatu kurniaan supaya anda datang kepadaNya. Allah swt mengurniakan kepada anda sesuatu kurniaan bagi menyelamatkan anda dari terbelenggu dengan kekuasaan debu-debu dunia agar anda bebas daripada penghambaan kebendaan dan syahwat keduniaan. Allah swt mengurniakan kepada anda sesuatu kurniaan agar Anda dapat melepaskan diri anda daripada tahanan wujud anda kepada lapangan melihatNya.”
Kata-kata hikmah ini merujuk kepada situasi yang dilalui oleh seorang yang salik menuju Allah S.W.T. Situasi yang pertama ialah diperingkat al-mubtadi’. Di peringkat ini Allah S.W.T. menyedarkan hati seorang yang salik dari sifat al-ghaflah atau lalai sehingga hati itu akan menjadi jaga atau berada dalam keadaan al-yaqazah. Dengan kurniaan ini, seorang yang salik itu akan akan dapat mengeluarkan diri atau jiwanya dari gelap kelalaian hati (zulmat al-ghaflah) kepada terangnya cahaya kesedaran (nur al-yaqazah).
Seterusnya di peringkat kedua atau al-mutawassit, Allah S.W.T. menjadikan hati seorang yang salik itu sentiasa hudur (hadir) dalam mengingatiNya sehingga ia lupa kepada yang lainNya (hudur ma`allah).  Seterusnya di peringkat akhir (al-muntaha) Allah S.W.T. menjadikan hati seorang yang salik itu sentiasa syuhud terhadap hakikat Allah S.W.T., keagongan dan kesempurnaanNya, Uluhiyyah dan RububiyyahNya sehingga dengan itu jelas hakikat kehambaan diri yang bersifat lemah, miskin, fakir, jahil, taksir (sifat kekurangan) dan sebagainya yang termasuk dalam peringkat al-ahwal bagi seorang yang salik.[5]
IV.       KESIMPULAN
            Dalam proses pembentukan Moralitas dan Spiritualitas melalui Maqamat wa Ahwal dalam ilmu tasawuf, sesorang perlu melalui beberapa tingkatan yang tentu tidak mudah dan tidak semua orang berhasil melakukannya. Maqamat wa Ahwal dalam disiplin ilmu tasawuf merupakan isu penting bagi mereka yang bercita-cita untuk menjalani mujahadat al-nafs (kontrol diri) yaitu perjuangan sungguh-sungguh atau jihad melawan ego atau nafsu pribadi.

V.        PENUTUP
Demikianlah uraian yang dapat Penulis sampaikan dalam makalah ini. Sebagai manusia biasa, tentunya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari Para Pembaca sangat Penulis nantikan demi kesempurnaan makalah dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi Pembaca pada umumnya.


[1] Wikipedia
[2] Prof. Dr. H. Abuddin Nata,M.A., Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2012. Hal. 193
[3] Prof. Dr. H. Abuddin Nata,M.A., Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2012. Hal. 204-205
[4] Prof. Dr. H. Abuddin Nata,M.A., Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2012. Hal. 193-204
[5] Othman Napiah, Ahwal dan Maqamat dalam Ilmu Tasawuf, Johor Bahru: Penerbit Universiti Teknologi Malaysia, 2012. Hal 17-19


DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin. Akhlak tasawuf. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA. 2012
Napiah, Othman. Ahwal dan Maqamat dalam Ilmu Tasawuf. Johor Bahru: Penerbit Universiti Teknologi Malaysia. 2012
Wikipedia


0 komentar:

Posting Komentar