INDIVIDU DALAM
KELOMPOK
MAKALAH
Di
Susun Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah Psikologi Sosial
Dosen
Pengampu Wening Wihartati, S.Psi.,
M.Si.

Di susun Oleh :
Abdul Rahman (1401016016)
Deni Puji Utomo (1401016085)
Afrohah Ira
Ariyanti (1401016086)
Hisnatul
Fajriyah (1401016096)
Dina Rohmatus
Saidah (1401016101)
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016
I.
PENDAHULUAN
Psikologi
Sosial adalah psikologi dalam konteks sosial. Seperti yang telah kita ketahui,
psikologi adalah ilmu tentang perilaku, sedangkan sosial di sini adalah
interaksi antar individu atau antar kelompok dalam masyarakat. Jadi psikologi sosial
dapat diterapkan dalam konteks keluarga, sekolah, teman, kantor, politik,
Negara, lingkungan, organisasi dan sebagainya. Psikologi sosial tidak
mempelajari perilaku yang tidak kasat mata dan tidak terukur. Dengan demikian,
psikologi sosial menghubungkan aspek-aspek psikologi sosial dari perilaku
sosial dengan proses dan struktur kognitif yang lebih mendasar.
Atas dasar
itulah, maka kelompok dan dinamikanya menjadi pokok bahasan yang penting dalam
psikologi sosial. Dalam kehidupan, individu tak pernah lepas dari kelompok
ketika individu lahir, ia adalah bagian dari kelompok kecil yang dinamakan
keluarga. Selanjutnya, individu menjadi anggota dari berbagai kelompok di
lingkungan rumah, sekolah, tempat kerja, dan di tengah masyarakat. Individu
beraktivitas dan berkembang bersama orang-orang di dalam kelompok. Hal itu
menimbulkan terjadinya saling mempengaruhi antara individu dan kelompok.
Individu mendefinisikan diri berdasarkan kelompoknya dan bahkan kerap
kehilangan keunikan diri karena membaur dalam kelompok.
Oleh karena
itu, pembahasan Individu dalam Kelompok akan menjadi suatu modal atau bekal
yang sangat penting bagi kita untuk dapat hidup dalam komunitas sosial yang
dapat dipersempit dengan komunitas-komunitas kecil yang ada di lingkungan
sekitar. Maka penulis dalam makalah ini akan menjelaskan sedikit tentang
mengenai pengertian kelompok, jenis-jenis kelompok, ciri-ciri, serta pengaruh
dan perilaku kelompok.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apakah
Pengertian Dari Kelompok ?
B.
Bagaimana
Proses dan Dasar Pembentukan Kelompok?
C.
Apakah
Manfaat Kelompok Bagi Individu ?
D.
Apakah
Alasan Individu Bergabung Didalam Individu ?
E.
Bagaimana
Pengaruh Kelompok Terhadap Tingkah Laku Individu ?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Dari Kelompok
Dalam kehidupan dapat kita amati dalam masyarakat terdapat adanya
kelompok-kelompok tertentu yang jumlahnya sangat banyak, kelompok satu dengan lainnya berbeda. Menurut Show (1979)
kelompok ialah “as two or more people who interact with and influence
one other”, yakni satu atau dua orang yang anggotanya saling berinteraksi
satu dengan yang lain, dan karenanya saling mempengaruhi. Menurut Baron
Branscombe & Byrne, kelompok yaitu Sekumpulan orang yang merasa terikat
dalam unit koheren pada beberapa tingkatan. Menurut Vaughan & Hogg,
kelompok yaitu dua orang atau lebih yang berbagi definisi dan evaluasi yang
serupa tentang diri mereka dan bersikap berdasarkan definisi tersebut.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan
bahwa di dalam kelompok mempunyai hal-hal berikut :
1.
Sekelompok
orang (dua atau lebih)
2.
Mempersepsi
dan dipersepsi sebagai satu kesatuan
3.
Ada
interaksi antaranggota
4.
Ada
saling ketergantungan satu sama lain
5.
Memiliki
tujuan bersama
6.
Anggota
kelompok merasa dirinya sebagai bagian dari kelompok.
Kelompok mempunyai ciri-ciri yaitu
tujuan, struktur, dan groupness.
Macam-macam kelompok,
antara lain:
1. Kelompok primer
Kelompok primer ialah kelompok yanng mempunyai interkasi sosial yang cukup
intensif, cukup akrab, hubungan antara anggota satu dengan yang lain cukup
baik. Kelompok ini juga sering disebut face to face group, anggota
kelompok satu sering bertemu dengan kelompok lain, sehingga para anggota
kelompok satu sering bertemu dengan kelompok yang lain, sehingga para anggota
kelompok salinng kenal mengenal dengan baik. Misal keluarga, kelompok belajar.
2. Kelompok sekunder
Kelompok sekunder ialah kelompok yang mempunyai interaksi
yang kurang mendalam bila dibandingkan dengan kelompok primer. Hubungan antara
anggota satu dengan yang kurang mendalam, karenanya hubungan anggota satu
dengan anggota yang lain agak renggang, tidak seintensif seperti pada kelompok
primer. Hubungan pada kelompok sekunder lebih bersifat formal, objektif, atas
dasar logis rasional, kurang bersifat kekeluargaan, sedangkan pada kelompok
primer hubungannya justru sebaliknya, lebih bersifat informal, subjektif, atas
dasar perasaan dan dasar kekeluargaan.[1]
Ciri-ciri kelompok yaitu :
1. Terdapat dorongan (motiv) yang sama pada individu-individu yang menyebabkan
tejadinya interksi kearah tujuan yang sama.
2. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan terhadap individu individu
yang satu denga yanng lain berdasarkan reaksi-reaksi dan kecakapan-kecakapan
yang berbeda antara individu yang terlibat didalamnya. Oleh karena itu lambat
laun mulai terbentuk pembagian tugas serta struktur tugas tugas tertentu
dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan yang sama itu. Sementara itu mulai
pula terbentuk norma-norma yang khas dalam interaksi kelompok kearah tujuannya
sehingga mulai terbentuk kelompok sosial dengan ciri-ciri khas.
3. Pembentukan dan penegasan struktur kelompok yang jelas dan terdiri atas
peranan-peranan dan kedudukan yang lambat laun berkembang dalam usaha
pencapaian tujuannya.
4. Terjadinya penegasan dan peneguhan norma-norma pedoman tingkah laku anggota
kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan kelompok dalam merealisasikan tujuan
kelompok[2].
Komponen Utama dalam Kelompok
Kelompok memiliki struktur. Struktur
kelompok ini dapat mempengaruhi tingkah laku individu yang menjadi anggotanya
atau individu lain di luar kelompok Struktur kelompok terdiri atas :
1. Peran
Menurut
Baron dkk. Tahun 2008 Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan untuk
dilakukan oleh individu atau kelompok individu yang menempati posisi tertentu
di dalam grup. Sedangkan menurut Vaughan & Hogg (2005), peran adalah
dirancang dengan spesifik untuk membedakan di antara orang-orang dalam grup
untuk kebaikan grup itu secara keseluruhan. Membantu untuk menjelaskan tanggung
jawab dan kewajiban anggota grup.
Maka
dapat disimpulkan bahwa peran adalah serangkaian tingkah laku yang dijalankan
atau diharapkan dan dijalankan oleh anggota kelompok yang memiliki posisi
tertentu di dalam kelompok sehingga membedakan ia dari anggota lain yang
memiliki posisi berbeda.
Peran
muncul karena kelompok terdiri dari kumpulan individu yang punya fungsi
berbeda-beda sesuai dengan posisinya. Dengan demikian peran berfungsi untuk
membedakan anggota kelompok berdasarkan tanggung jawab masing-masing. Peran
juga membantu menciptakan lingkungan yang stabil dan memberi informasi tentang
apa yang seharusnya dilakukan di dalam kelompok serta tentang siapa kita di
dalam kelompok dalam hubungannya dengan anggota lain.
Konflik peran merupakan kondisi ketika berbagai tuntutan di
dalam peran seseorang yang bertentangan (intraperan) atau ketika tuntutan dari
berbagai peran yang dimiliki seseorang saling bertentangan satu sama lain antar
peran (Burn, 2004).
2. Status
Status
adalah posisi seorang anggota kelompok di dalam hierarki kelompok berdasarkan
prestasi, penghormatan atau keistimewaan yang membedakan dirinya dengan anggota
lain di dalam kelompok.
Status
terjadi karena adanya perbedaan peran di dalam kelompok.Ada peran-peran yang
pemegangnya lebih dihormati dibandingkan yang lain.Status terdiri atas dua
jenis,yaitu status yang diwariskan (ascribed
status) dan status yang diusahakan (achieved
status). Status yang diwariskan adalah status yang diberikan kepada
individu karena ia memiliki karakteristik yang menurut kelompok berharga dan
prestisius. Sedangkan status yang diusahakan diperoleh individu karena ia
melakukan sesuatu yang penting dalam mencapai tujuan kelompok atau berkorban
untuk kelompok.
Faktor-faktor
yang berhubungan dengan diraihnya status tinggi seseorang di dalam kelompok
menurut penelitian (Vaughan dan Hogg,2005;Baron dkk,2008) :
a. Ukuran tubuh Laki-laki dan perempuan
yang lebih tinggi cenderung dipilih menjadi pemimpin.
b. Memiliki atribut-atribut yang
penting bagi kelompok, baik sifat maupun penampilan atau atribut lain seperti
jenis kelamin, etnisitas, dan pekerjaan.
c. Usia anggota yang senior, lebih
besar kemungkinannya memegang status yang tinggi.
d. Kemampuan individu dalam menangani
tugas kelompok dan berinisiatif melakukan sesuatu yang menguntungkan kelompok.
3. Komunikasi
di dalam Kelompok
Komunikasi
di dalam kelompok biasanya membentuk jejaring yang menentukan siapa berkoordinasi
dengan siapa. Jejaring komunikasi bisa terpusat (centralized) atau tersebar
(decentralized). Jejaring komunikasi terpusat terbentuk ketika anggota kelompok
harus menghubungi seorang tokoh sentral untuk berkomunikasi dengan anggota
lain. Sedangkan jejaring komunikasi tersebar terbentuk ketika informasi
mengalir di antara anggota kelompok tanpa harus melalui tokoh sentral.
Komunikasi
juga bisa berbentuk secara formal dan informal. Jejaring komunikasi formal
dirancang dan disediakan oleh kelompok, seperti memo internal dan rapat
mingguan. Sementara jejaring komunikasi informal adalah jejaring komunikasi
yang tidak resmi, seperti grapevine (saluran tempat berlalu-lalang gosip, rumor
dan informasi tidak resmi lainnya).
Iklim
Komunikasi di dalam Kelompok. Selain struktur komunikasi, iklim komunikasi juga
berperan penting dalam mempengaruhi tingkah laku anggota kelompok. Iklim
komunikasi dapat bersifat suportif (kooperatif) dan defensive (kompetitif). Jika
iklim komunikasi yang berkembang membuat anggota kelompok merasa bebas untuk
berkomunikasi secara jujur dan komunikasi ditujukan untuk membahas kerja
kelompok,maka berarti iklim komunikasi suportif tengah berlangsung. Sedangkan
jika iklim komunikasi yang berkembang membuat anggota kelompok saling tidak percaya
dan saling bersaing, maka iklim komunikasi defensif sedang berlangsung di dalam
kelompok itu.
4. Norma
Norma adalah aturan yang disepakati bersama
tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan oleh anggota
kelompok. Norma memiliki beberapa fungsi (Burn, 2004) :
a. Mengatur tingkah laku anggota
kelompok sehingga kelompok dapat berfungsi secara efisien dalam mencapai
tujuan.
b. Mengurangi ketidakpastian karena
individu tahu apa yang diharapkan dari dirinya di dalam kelompok.
c. Membedakn kelompok dengan kelompok
lain,termasuk anggota kelompok dengan nonanggota, sehingga memudahkan
terbentuknya identitas kelompok.
5. Kohesivitas
Kelompok
Kohesivitas kelompok adalah faktor-faktor
yang dimiliki kelompok yang membuat anggota kelompok tetap menjadi anggota
sehingga terbentuklah kelompok.Kohesivitas penting bagi kelompok karena ia yang
menyatukan beragam anggota menjadi satu kelompok. Festinger, Schachter, dan
Back (1950) mengemukakan bahwa kohesivitas dipengaruhi oleh kemenarikan
kelompok dan anggotanya serta sejauh mana kelompok bisa memenuhi kebutuhan atau
tujuan individu. Terbentuknya kohesivitas selanjutnya akan memengaruhi tingkah
laku anggota, seperti melanjutkan keanggotaan di dalam kelompok serta patuh
pada norma kelompok.
6. Sosialisasi
Kelompok
Sosialisasi kelompok adalah bagaiman
kelompok berubah dari waktu ke waktu karena anggotanya berinteraksi sehingga
terjadi perubahan struktur hubungan dan peran di dalam kelompok.
Model
perkembangan kelompok dasar dari Tuckman (1965) :
a. Forming (orientasi)
b. Storming (konflik)
c. Norming (struktur)
d. Performing (bekerja)
e. Adjourning (bubar).[3]
B.
Proses
dan Dasar Pembentukan Kelompok
Kelompok ialah suatu keadaan
yang dialami oleh seseorang dengan alasan untuk mengelompokan dirinya dengan
sesamanya untuk mencapai suatu tujuan bersama, dan dengan tujuan itu mungkin
tak dapat dicapai sendiri dengan usahanya. Adapun dasar-dasar pembentukan
kelompok yaitu:
1. Dasar psikologis
2. Dasar pedagogis
Yakni bahwa dengan terbentuknya kelompok dapat ditingkatkan taraf
perkembanganya kepribadian seseorang. Dengan adanya hubungan timbal balik dalam
kelompok maka prestasi idividu dapat ditingkatkan. Misalnya Rasa malu menjadi
berani, sifat malas menjadi rajin akibat disiplin kelompok yang terlatih.
3.
Dasar didaktis
Kelompok memiliki nilai didaktis, yang sebagi alat untuk menjadi
perantara, penyampaian materi yang baru kepada anggota, dan melalui kerja
kelompok anggota dapat menguasai suatu materi dengan jalan diskusi, sosial
jawab secara singkat, melengkapi dan sebagainya.
Dalam sebuah kelompok terdapat norma-norma tingkah laku yang khas antara
anggota kelompok yang mana diharapkan dari semua anggota kelompok dalam kedaan
yang berhubungan dengan kehidupan dan tujuan interaksi kelompok, dengan
norma kelompok memberi pedoman mengenai tingkah laku mana dan sampai batas mana
masih dapat diterima oleh kelompok dan tingkah laku anggota yang mana tidak
diperbolehkan lagi oleh kelompok.[4]
C.
Manfaat
Kelompok Bagi Individu
Seseorang bergabung dalam kelompok, tentunya
mempunyai maksud tertentu. Seseorang akan bergabung dengan kelompok tertentu
jika kelompok tersebut dirasakan memberikan mamfaat bagi individu tersebut. Meski
kelompok bisa membatasi independensi individu, namun individu di manapun tetap
saja menjadi anggota kelompok tertentu. Ini karena kelompok memberikan mamfaat
bagi individu. Menurut Burn (2004) kelompok memiliki 3 manfaat, yaitu:
1. Kelompok memenuhi keinginan
individu untuk merasa berarti dan dimiliki. Adanya kelompok membuat individu
merasa tidak sendirian, ada oprang lain yang membutuhkan dan menyayangi.
2. Kelompok sebagai sumber identitas
diri. Individu yang tergabung didalam kelompok bisa mendefinisikan dirinya, ia
menggali dirinya sebagai anggota suatu kelompok, dan bertingkahlaku sesuai
norma kelompok itu.
3. Kelompok sebagai sumber informasi
tentang dunia dan tentang diri kita. Adanya orang lain, dalam hal ini kelompok,
bisa memberi kita informasi tentang banyak hal, termasuk tentang siapa diri
kita.
Selain itu ada mamfaat lain yang cukup mendasar
yang membuat individu betah dalam berkelompok, yakni dukungan untuk mencapai
tujuan individu. Dengan berkelompok, individu akan merasa dan mengharapkan
bantuan dari aggota kelompok lainnya, setidaknya dukungan untuk mencapai hal
tersebut.[5]
D.
Alasan
Individu Bergabung Didalam Individu
Sebagian besar orang masuk kelompok mempunyai
alasan tertentu, meskipun tanpa disadari. Secara psikologis, orang masuk dalam
kelompok setidaknya karena tiga alasan (Worchel dan Cooper, 1983), yaitu:
1. Pada hakekatnya orang mempunyai
kebutuhan untuk berafiliasi.
2. Kelompok sering menjadi sumber
informasi.
3. Kelompok
sering memberikan hadiah. Alasan ini sering menjadi dasar kepindahan orang ke
kelompok lain.[6]
E.
Pengaruh
Kelompok Terhadap Tingkah Laku Individu
Di dalam kelompok, individu juga
dapat mengalami pemalasan sosial dimana individu menjadi ‘malas’ ketika berada
di dalam kelompok. Kelompok membuat motivasi dan usaha individu berkurang. Fenomena
ini terjadi pada berbagai konteks dan tugas. Ada beberapa penyebab pemalasan
sosial yang dikemukakan para ahli, antara lain Geen (1991) yang mengemukakan
tiga sebab berikut :
1) Output Equity, Pemalasan
sosial terjadi karena anggota kelompok beranggapan bahwa anggota kelompok
cenderung bermalas-malasan sehingga mereka mengira teman sekelompok mereka juga
bermalas-malasan. Akibatnya, mereka pun bermalas-malasan supaya sama.
2) Evaluation
Apprehension, Pemalasan sosial terjadi karean identitas individu menjadi
tersamar (anonim) ketikas berada dalam kelompok.
3) Matcing to Standard, Pemalasan
sosial terjadi karena tidak tersedia standar yang jelas untuk membandingkan
performa individu.
a) Free-rider
effect
Free rider adalah orang yang mengambil untung dengan
menggunakan fasilitas atau sumber daya milik umum,namun ia tidak mau berkontribusi
untuk merawatnya. Perbedaan antara free-rider effect dengan social loafing
adalah ada tidaknya kontribusi individu untuk kelompok.Pada social loafing, individu
masih berkontribusi meski sedikit. Sedangkan free-rider sama sekali tidak
memberi sumbangan apapun untuk kelompok.
b) Mengurangi
pemalasan sosial dan free-rider effect
1) Membuat hasil kerja
individual dapat segera dikenali. Kelompok atau pemimpin harus mebuat mekanisme
evaluasi yang mengikutsertakan hasil kerja individu anggota kelompom sebagai
bahan evaluasi. Selain itu harus dibuat standar performa yang jelas sebagai
acuan kerja individu maupun kelompok.
2) Meningkatkan komitmen
orang untuk sukses bersama.
3) Menegaskan nilai
pentingnya tugas yang dikerjakan.
4) Membentuk pandangan
bahwa yang dikerjakan setiap orang adalah unik, bukan sekedar ‘pengulangan’
atau hal yang serupa tapi dikerjakan oleh orang lain.[7]
IV.
KESIMPULAN
Kelompok ialah “as two or more people who interact with and influence one
other”, yakni satu atau dua orang yang anggotanya saling berinteraksi satu
dengan yang lain, dan karenanya saling mempengaruhi. Kelompok mempunyai ciri-ciri, yaitu tujuan, struktur, dan groupness.
Macam-macam kelompok yaitu kelompok primer dan kelompok sekunder.
Dalam kelompok juga ada dasar-dasar pembentukan kelompok, yaitu:
a)
Dasar psikologis
b)
Dasar pedagogis
c)
Dasar didaktis
Dalam kelompok
juga terdapat norma kelompok yaitu, pedoman-pedoman yang
mengatur perilaku atau perbuatan anggota kelompok, norma berada dan berlaku
dalam kelompok yang bersangkutan. Kelompok dengan caranya sendiri dapat
mempengaruhi individu, biasanya dengan norma atau aturan-aturan yang ada di
dalamnya. Kadang terbesit di kepala kita untuk melakukan
sesuatu, hanya saja karena terbentur aturan dalam masyarakat
(kelompok masyarakat) kita mengurungkan niat. Kemudian apa yang
terjadi kalau kita tidak mengindahkan aturan dalam kelompok?
Kemungkinan yang sering terjadi adalah dikucilkan dari
kelompok. Namun melalui norma inilah, kelompok dapat membentuk keteraturan di
dalamnya untuk menjaga stabilitas kelompok dan keamanan
anggotanya.
V.
PENUTUP
Demikian
makalah yang bisa kami sampaikan sekiranya isi makalah ini dapat
memberikan pemahaman dan wawasan tentang materi Individu dalam Kelompok.
Mohon maaf apabila ada kesalahan menyampaaikan dalam makalah ini dan semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
[5]
http://waroengpsikologi.blogspot.co.id/2012/10/individu-dalam-kelompok.html
[6]
Umi kulsum, dan
Mohammad Jauhar, Pengantar Psikologi
Sosial, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2014, Hal. 155
[7]http://waroengpsikologi.blogspot.co.id/2012/10/individu-dalam-kelompok.html
DAFTAR
PUSTAKA
http://waroengpsikologi.blogspot.co.id/2012/10/individu-dalam-kelompok.html
Ahmadi, Abu. 1999. Psikologi Sosial. Jakarta:
Rineka Cipta
Gerungan. 2004. Psikologi Sosial. Bandung:
Refika Aditama
Umi kulsum, dan
Mohammad Jauhar. 2014. Pengantar
Psikologi Sosial. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher
walgito,
Bimo. 2002. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi






0 komentar:
Posting Komentar